Kekerasan Di Mana-mana
Hampir setiap hari ketika kita menyaksikan televisi atau membaca koran dan majalah, buka detik.com dan lain-lain selalu ada berita kekerasan. Malah sering menjadi headline news. Beberapa teman bertanya kepada saya dengan penuh keprihatinan bagaimana menghentikan tindak kekerasan yang ada dimana-mana ini
Menurut saya kekerasan telah menjadi budaya kita. Tidak terima..? Atau tidak setuju…? Mari kita lihat…. Berapa bnyak kekerasan yang terjadi, coba silahkan diprosentase….. Yang jauh lebih membuat saya yakin adalah semakin banyak orang yang tidak peduli dan menjadi biasa-biasa saja jika ada peristiwa kekerasan. Masih tidak percaya…? Pelaku kekerasan di STIP dan juga STPDN menganggap apa yang mereka lakukan sebagai tradisi demikian juga Geng Nero. Banyak Ormas-ormas mengambil langkah kekerasan sebagai jalan keluar permasalahan daripada dialog atau musyawarah untuk mencapai mufakat yang selalu kita gembar-gemborkan sebagai budaya kita. Apa itu bukan namanya sudah menjadi budaya ?
Lalu bagaimana cara menghapus budaya kekerasan ini ? Hal yang paling mendasar dapat saya analogikan sebagai berikut… Seorang tidak dapat berubah menjadi lebih baik jika pertama-tama tidak mau mengakui adanya hal-hal jelek yang harus dirubah. Selama kita masih terbuai dan selalu percaya tanpa mau melihat realita dan terpaku bahwa kita adalah bangsa yang ramah dan cinta damai. Musyawarah dan mufakat adalah tradisi kita. Bangsa murah senyum dan lain-lain maka kita tidak akan bisa berubah
Memang cinta damai, ramah dan murah senyum serta baik hati adalah budaya asli kita tetapi budaya kekerasan yang bukan merupakan budaya asli kita telah mengambil alih budaya kita yang adiluhung. Lupakan segala rupa romantisme semu…. lihatlah kenyataan dan bekerja keraslah untuk perubahan yang lebih baik