Pergi Melayat dan Resepsi Pernikahan

Saya baru melayat nenek dari sahabat baik saya yang meninggal tanggal 19/09/2008 kemarin. Sesungguhnya pergi melayat adalah salah satu kegiatan yang paling tidak saya senangi. Ada 2 hal kegiatan yang tidak saya senangi. Pertama seperti yang saya tulis diatas yaitu pergi melayat, kedua adalah pergi ke resepsi pernikahan…. Ya, saya tidak suka pergi ke resepsi pernikahan

Merasa heran atau aneh……???

Mari saya jelaskan……

Saya tidak suka pergi melayat karena saya sedih melihat orang-orang yang berduka meratap-ratap akan sesuatu yang seharusnya membahagiakan dan sudah seharusnya pasti akan terjadi. Banyak orang bilang ketika kita meninggal kita kembali menghadap Tuhan. Bukankah hal tersebut membahagiakan ? Bagi saya peristiwa menghadap dan bertemu Tuhan adalah peristiwa yang sangat menyenangkan !!! Saya selalu menunggu saat bertemu dengan Tuhan untuk menyapaNya dan berkata “Halo Tuhan…., apa kabar ?”

Berikutnya….. Semua orang pasti akan mati. Jadi kematian adalah sesuatu yang seharusnya pasti terjadi, tinggal tunggu saatnya saja. Tentu kita merasa kehilangan karena tidak dapat bertemu lagi dengan mereka yang telah meninggal. Tetapi janganlah rasa kehilangan berubah menjadi kesedihan dan ratapan-ratapan penuh rasa berat untuk berpisah

Saya tidak suka pergi ke resepsi pernikahan karena saya tidak tahu untuk apa sebuah pernikahan dirayakan…. Untuk berbagi kebahagiaan diantara 2 keluarga yang anaknya menikah mungkin….. Tapi bertahun-tahun menggeluti berbagai macam permasalahan dalam keluarga membuat saya lebih memilih untuk merayakan ulangtahun pernikahan. Entah ulangtahun pernikahan yang ke 25, 30, 40, atau 50 tahun. Karena mempertahankan pernikahan selama itu baru pantas untuk dirayakan. Semua orang bisa nikah tapi kenyataan menunjukkan tidak semua orang bisa mempertahankannya :)

Nb: Jika tidak suka kok di awal tulisan bilang baru saja pergi melayat ? Jawab: Karena untuk keluarga baik yang karena pertalian darah atau relasi ya gak berlaku lah….. Saya pasti akan hadir baik pernikahan atau melayat he he he he….. :D

Explore posts in the same categories: Sosial

7 Comments on “Pergi Melayat dan Resepsi Pernikahan”

  1. life1ssimple Says:

    Kemaren ntn Aljazeera, ada dokumentasi soal prosesi pemakaman di Madagaskar dimana kluarga yg ditinggal malah berpesta pora krn mereka percaya mereka yg meninggal pergi ke dunia yg lebih baik dan mereka akan melindungi semua org yg di bumi

  2. Bayleys Says:

    ada 3 point penting di kehidupan manusia:
    kelahiran
    pernikahan
    kematian
    di agama mungkin ada tambahn khitan, baptis, dll.

    dan masing2 point itu aku rasa layak mendapat penghormatan dari orang lain. hal ini juga diamini oleh sebagian besar kebudayaan di dunia.
    so suka ato ga, secara norma ya emang kita harus dateng. dan menurut aku kedatangan kita lebih merupakan suatu bentuk dukungan moral untuk menyambut keluarga baru, dukungan agar sukses membangun rumah tangga, dukungan agar keluarga tabah sekalian mengatakan “kalo ada masalah, aku ada di sini”

    aku juga ga suka melayat bukan karena tidak menghormati yg meninggal tapi lebih karena merasa salah tingkah saja melihat org lain sedih. dan masalah meninggal itu kebahagiaan ato kesedihan, ya balikin lagi ke masing2 individunya. bagi aku sendiri kalo mau menyapa Tuhan ga harus di hari terakhir nanti koq. setiap hari selalu ada kesempatan untuk itu.

    makanya aku jarang banget ziarah ke makam meskipun itu makam keluarga sendiri. bagiku penghormatan kepada orang harusnya udah tuntas saat dia meninggal. makanya lagi, kalo antrianku udah tiba aku pilih dikremasi aja deh, biar ga nambah dosa ke bumi n ke orang yg masih idup.

  3. RJT Says:

    kematian, perkawinan, hanya sebuah tahapan dalam hidup. kenapa juga harus diributkan?? norma?? ah, itu hanya kesepakatan bersama saja dalam konstruksi hidup bermasyarakat. artinya, kapan saja bisa dirubah oleh siapa saja asal ada kesepakatan bersama.

    piss….

  4. Bayleys Says:

    begini nih,
    orang yg mati ga mungkin ngubur dirinya sendiri demikian juga keluarganya yg susah pasti butuh bantuan. bagaimanapun yg namanya perpisahan pasti berat. pisah yang nanti bisa ketemu lagi aja kadang berat apalagi kalo dipisahkan kematian.
    kelahiran juga gitu, pasti ada hal2 lain yg harus dilakukan dengan bantuan orang lain.
    pernikahan juga idem.

    jadi, nurut aku, kedatangan kita (saudara, tetangga, relasi, dll) adalah salah satu wujud dukungan. itu juga kenapa (dulu) indonesia disebut sebagai masyarakat yg gotong royong (menurut buku PMP) hehehehehe

    jadi sebenernya juga bukan urusan ribut ato enggak. di masyarakat yg sekarang khan sudah banyak maksud2 yg numpang di tahapan2 itu, contohnya: bikin pesta nikah yg mewah agar relasi bisnis n imej bagus, sebaliknya yg dateng juga ada maksud agar lain kali aku butuh ada yg bales. itu yg bikin makna sebenarnya jadi kabur.
    inget guyonan “tiada kesan tanpa kehadiran kado anda”?

    mengenai norma, kenapa emangnya? emang kita bisa hidup tanpa norma?

    piss juga

  5. Bayleys Says:

    aku barusan bayangin kalo misalnya waktu aku nikah, kelahiran anak, ato ada keluargaku yg meninggal, trus ga ada temen2 yg dateng. duh rasanya.

    tidak mempunyai orang lain untuk diajak berbagi kebahagiaan ato kesedihan adalah nasib paling buruk dari seseorang.

    mungkin ini ungkapan terima kasih yg terlambat, but better late than never,
    terima kasih buat semua yang udah dateng di pesta pernikahanku, nungguin kelahirannya kenny yg bener2 melelahkan ‘n dateng waktu keileen pertama kali muncul di dunia.

    dan semoga semuanya masih bisa diajak berbagi kebahagiaan di saat ultah kawin yg kesekian ato di saat2 yg lain.

  6. kristi Says:

    Aqu setuja bgt ma carlos, bukan krn apa2. Ya kebetulan prinsip kita dalam hal ini setara. Menurut saya melayat itu bagian dari kewajiban bersosialisasi, dan pesta pernikahan memang pemborosan bgt , ada banyak cara lain yang lebih reasonable utk mewartakan sebuah hub.pernikahan. So!..carlos, hidangkan pahit kopi dan goreng pisang, iringkan dengan lagu2ku, don’t cry for me, Aleluya babe..h.h

  7. gervas Says:

    PENDAPAT PRIBADI, ADALAH HAL YANG WAJAR………..

    hidup kita tidak bisa lari dari budaya………
    sebuah pertayaan, orang suku asmat akan bilang, ngapain pakai pakaian, toh ga ada gunanya, toh hidup ini sementara, cukup koteka aje kali……. apa semua mau beralih ke koteka……….. ga kan……….??????

    ketika 4 tahun lalu ayahku meninggal, dan dalam salah satu keluarga yang masih ada hubungan perkawinan, tidak ada satu pun yang datang, bahkan mengantar beliau ka kubur, saya bertanya2, KENAPA….?
    ternyata selidik, mereka kebetulan lagi kesulitan, dan tidak bisa bisa datang, karena tidak ada yang mau di bawa (semacam sumbangan)………. ketika aku bertemu, langsung ku bilang, ITU TIDAK PENTING, YANG PENTING ADALAH KEHADIRANMU, DAN PASTI DOA MU.
    jadi pendapat saya, ubah kebudayaan yang menghambat silaturahmi, bukan berhenti mengunjungi…….. setiap orang punya rasa berbeda, kehadiran kita menguatkan mereka……….

    perkawinan….??????
    duh, aku kalo ga di undang, bertanya2, aku kenapa ya……????
    dan kalo di undang, aku wajib datang, meski ga punya ANGPAO……..
    TAPI INI PENDAPAT PRIBADI LOH BUNG…………..


Comment: