Kumpul Keluarga Besar
Suatu hari kakak dari ibu saya mengeluh seperti ini, ” keluarga kita ini, anak-anak dan cucu-cucunya Opa dan Oma (panggilan di dalam keluarga saya untuk kakek dan nenek) kok gak bisa sering kumpul-kumpul sebagai keluarga besar ya….” Saya coba merenungkan…… Apa iya ya….? Kayaknya sih memang iya ya……. Keluarga besar saya menurut pengamatan saya memang cenderung menjaga jarak tetapi bukan berarti tidak akrab. Kami tetap sebuah keluarga besar yang akrab tetapi ya itu tadi, ada semacam jarak yang membuat kami (paling tidak saya menyadari) merasa tidak perlu untuk selalu berdekat-dekatan ria…… Berbeda dengan keluarga besar sahabat baik saya yang sering kumpul-kumpul keluarga bahkan sampai bikin yayasan dan setiap 2 tahun sekali kumpul keluarga besar
Mana yang lebih baik ? Apakah keluarga besar yang tidak terlalu mementingkan kumpul keluarga itu jelek ??? Yah karena keluarga besar saya jarang kumpul-kumpul tentu saja saya menjawab tidak….. Ha ha ha ha ha…..
Saya kira kembali pada karakter tiap-tiap anggota keluarga tersebut. Entah mengapa, anggota keluarga besar saya terdiri dari pribadi-pribadi yang berkarakter sangat kuat. Sebagai keluarga besar, kami semua sulit diatur dibawah satu komando. Karena masing-masing punya kemauannya sendiri. Sebagai contoh (tanpa bermaksut membuka aib keluarga
): Kami beberapa kali melaksanakan acara pergi ke luar kota bersama keluarga besar. Dan selama perjalanan (yang terakhir) 5 hari 4 malam tersebut sudah tidak terhitung berapa kali terjadi pertengkaran diantara kami. Tante saya mau ke Mall, saya mau ke museum, sepupu saya mau ke distro, saudara yang lain ribut karena salah paham, paman saya mau lihat kapal, adik saya gak tahu ribut apa lagi….., ibu saya bete karena semua pada ribut. Waktu terbatas dan semua bersikukuh dengan keinginan masing-masing. Pfiuuuhhh…… Perjalanan jadi benar-benar capek lahir dan batin he he he he……
Tapi ya begitulah karakter kami….. Mau bagaimana lagi ? Jadi bagi saya lebih baik sedikit membuat jarak walaupun tidak memutus tali hubungan keluarga, tali silahturahmi dan keakraban. Karena tidak selalu pola yang satu akan cocok dengan kondisi keluarga yang lain. Silahkan cari yang paling pas buat anda
19 Oktober 2008 at 10:21 am
Waduuh..
Ketika sebuah pribadi yang dulunya bersama-sama (kakak-adik, ayah, ibu) mulai terpisah seiring dengan kedewasaan yang menyapa.
Seiring dengan Suami / Istri yang bertambah dalam sebuah keluarga besar..
Hal tersebut menciptakan sebuah tantangan yang luar biasa.
Apalagi bila sama-sama kerasnya.
Well, seperti kata orang, jika saya mungkin dianggap bermain layang-layang saja..
Tahu kapan menarik benang, tahu kapan mengulur benang…
Inti utamanya tetap positif, untuk kebersamaan keluarga besar.
Salam Bosssss.
19 Oktober 2008 at 1:27 pm
ha, ha, ha, membuka luka lama niiii, ya yang penting quality bukan quantity, itu menurut saya.
20 Oktober 2008 at 8:34 am
Ha ha ha ha……. membuka luka lama kadang perlu untuk bisa berkaca dan belajar dari peristiwa tersebut
21 Oktober 2008 at 1:39 pm
yah…spt yg sdh kita bahas…..kalo udah kumpul kluarga pasti deh gitu…..yah nasib kluarga besar yg kepala nya pada keras smua
22 Oktober 2008 at 6:27 pm
@Jumai : “….Yang kepalanya pada keras semua…”
Ikutan perguruan silat tuh…
Nanti kita coba suruh hancurin bata pake jidat. Hehehehe.
Salam semuaaaaaa..
28 Oktober 2008 at 7:21 am
waduh kang erwin mah…..anarkis pisan euy….
5 November 2008 at 10:59 am
kalo aku pergi sama mertua aja udah ngerasa kayak bencana bessoooaaarrrr
sering kepentingan pribadi harus dikalahkan sama kepentingan mertua hahahahahaha