The “AHA” Experience
Dalam proses belajar, salah satu momen yang paling penting adalah apa yang disebut The “AHA” Experience atau Pengalaman “AHA”. Pengalaman “AHA” adalah pengalaman ketika pada suatu momen akhirnya anda mengerti dan paham dengan jelas apa yang sedang anda pelajari dan bila perlu bisa menjelaskannya kembali. Peristiwa ini dapat digambarkan seperti dalam komik atau film kartun ketika lampu bohlam menyala di kepala seseorang, kira-kira seperti itu…….
Pengalaman “AHA” adalah indikator penting sebuah proses belajar berjalan dengan baik atau tidak. Syarat tercapainya pengalaman “AHA” yang paling penting adalah si pebelajar harus menikmati proses belajar tersebut. ketika seseorang menikmati sesuatu maka seluruh perhatian terfokus pada apa yang dia nikmati tersebut
Terus terang saya sering bertanya-tanya….. Apakah anak-anak sekarang menikmati belajar di sekolah ? Saya sih curiga tidak……. Lha gimana mau menikmati, berangkat sekolah saja tasnya sudah seperti tentara berangkat perang (beratnya itu lho…..!!!) Materi yang harus dikuasai segitu buanyaknya. Belum lagi pulang sekolah masih harus les macam-macam
Saat ini proses belajar sudah menjelma menjadi hanya sekedar proses pencapaian-pencapaian target akhir. Keberhasilan seorang siswa hanya diukur dengan seberapa jauh bisa mencapai target tersebut. Melulu ukuran….. Memang dengan sistem sperti ini lebih mudah untuk melihat hasil capaian seseorang. Tetapi anak bukan tepung terigu yang harus diukur pas dengan timbangan supaya kue tidak bantat. Sama sekali tidak ada ruang untuk anak bersenang-senang dengan ilmu pengetahuan. Bersenang-senang dengan belajar tanpa target apa-apa
Ketika saya bersekolah, orangtua saya tidak pernah memberi target harus bisa bahasa ini itu, juara sana sini, pinter gini gitu. Targetnya cuma satu. Waktu naik kelas ya naik kelas dan waktunya lulus ya lulus. Sehingga saya punya banyak kesempatan untuk bereksperimen dan berkreasi termasuk kreasi sulap dengan kacang merah (nevermind !!! hanya kenangan masa kecil
) dan tentu saja mengalami buanyak sekali The “AHA” Experience…..
Melihat pendidikan sekarang membuat saya benar-benar malas punya anak…..!!!
4 Desember 2008 at 7:42 am
yah udah gak usah punya anak sendiri, adopsi aja kyk angelina jolie gituuuuuuuu
4 Desember 2008 at 8:41 am
cari istri dulu lah Los … baru kemudian mikir males gak-nya punya anak …….
4 Desember 2008 at 9:32 am
kudoakan kapan2 “AHA moment’mu waktu tau inilah saatnya punya anak..hehehe :d
4 Desember 2008 at 9:55 am
@Stevie: Bener banget deh Stev….. Calon istri aja belum jelas kok he he he he he
4 Desember 2008 at 9:58 am
@Juzz: Haduh…. berapa kali aku harus jelasin….. Aku males punya anak bukan karena masalah internal tapi lbh karena masalah eksternal yg kayak gini ini lho……
4 Desember 2008 at 10:19 am
Os…, boleh nggak AHAnya diganti ooooooooooooooooooooH….? atau ealaaaa, gitu to,
5 Desember 2008 at 8:15 am
hmmm……..kyke dek internet ada mail bride….bisa pesen sesuai keinginan eh he hee….
5 Desember 2008 at 10:59 am
@Kristi: Boleh…. boleh aja…..
@Jumai: Aku gak ngerti he he he he……
6 Desember 2008 at 4:34 pm
maksudnya pesen istri lewat pos he he he
9 Desember 2008 at 9:25 am
@Jumai: Oalah……
9 Desember 2008 at 4:37 pm
…AHA!…….
ahahahaha…. (tertawa maksudnya…)
Setuju banget.
Di arsitektur, “AHA” moment ini sangat sering terjadi.
Setiap kali mendesain sesuatu, seringkali mengalami kebuntuan.
Tembok rumah dibuat tinggi, tampak rumahnya jadi jelek, kalau pendek, ruang dalamnya pengap.
atau , ada jendela banyak bagus, ruangan dalam bisa sehat. Tapi dari segi estetika jelek (khusus untuk bagian tertentu) bahkan lebih bagus kalau dibuat polos saja.
nah…
saat itulah… AHA moment keluar….
9 Desember 2008 at 4:42 pm
Eh… sulap dengan kacang merah apa yaaaaaaa? jadi penasaran.
10 Desember 2008 at 10:20 am
@Erwin: Ah…. Akang teh gaharu cendana pula…… Sudah tahu bertanya pula……